The Principal's Award: Strategi Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Motivasi Membaca Siswa sebagai Tindak Lanjut Hasil TKA di MTsN 1 Pandeglang
- Hj. Yanti Mariah, S.S., M.Pd.
- Artikel , Berita Utama
- 15 April 2026
- 05 Menit baca
-
Pendahuluan
Meningkatkan prestasi akademik siswa tidak selalu harus dimulai dengan menambah jam belajar atau memperbanyak latihan soal. Ada fondasi yang sering kali justru perlu diperkuat terlebih dahulu, yaitu kebiasaan membaca.
Membaca membantu siswa memperoleh informasi, memahami persoalan, memperluas wawasan, membangun pengetahuan, dan mengembangkan kemampuan berpikir. Hampir seluruh aktivitas pembelajaran membutuhkan kemampuan tersebut. Ketika siswa membaca teks Bahasa Indonesia, memahami soal Matematika, mempelajari fenomena dalam IPA, atau mencari informasi dalam Bahasa Inggris, mereka sedang menggunakan kemampuan literasi.
Oleh karena itu, membangun budaya membaca bukan semata-mata tugas perpustakaan atau guru Bahasa Indonesia, melainkan bagian dari ekosistem pembelajaran madrasah yang perlu dibangun secara bersama-sama. Di MTsN 1 Pandeglang, upaya tersebut memperoleh momentum baru melalui sebuah gagasan yang diinisiasi oleh Kepala Madrasah, yaitu The Principal’s Award.
Dari Data TKA Menuju Aksi
Setiap data hasil asesmen seharusnya tidak berhenti sebagai angka dalam laporan. Data perlu dibaca, dianalisis, dan ditindaklanjuti menjadi dasar perbaikan.
Tabel 1. Perbandingan Rerata Nilai TKA Tahun 2026
| Mata Pelajaran | Rerata Nasional | Rerata Provinsi | Rerata Kabupaten | MTsN 1 Pandeglang |
|---|---|---|---|---|
| Bahasa Indonesia | 61,18 | 59,13 | 52,37 | 74,71 |
| Matematika | 40,49 | 40,08 | 27,08 | 44,52 |
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) MTsN 1 Pandeglang tahun 2026 menunjukkan capaian yang cukup baik. Pada Bahasa Indonesia, rerata nilai siswa mencapai 74,71, lebih tinggi dibandingkan rerata nasional (61,18), provinsi (59,13), dan kabupaten (52,37). Pada Matematika, rerata MTsN 1 Pandeglang mencapai 44,52, juga lebih tinggi dibandingkan rerata nasional (40,49), provinsi (40,08), dan kabupaten (27,08).
Capaian tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, capaian yang baik bukan alasan untuk berhenti. Justru, capaian tersebut menjadi pijakan untuk menetapkan target yang lebih tinggi. MTsN 1 Pandeglang menargetkan rerata TKA 80 pada tahun 2027.
Pertanyaannya kemudian: apa yang perlu dilakukan agar target tersebut dapat dicapai? Jawabannya tentu tidak tunggal. Peningkatan hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kualitas pembelajaran, kompetensi guru, motivasi belajar siswa, kebiasaan belajar, dukungan keluarga, lingkungan belajar, dan berbagai faktor lainnya. Salah satu fondasi yang perlu diperkuat adalah literasi membaca.
Mengapa Motivasi Membaca?
Persoalannya bukan hanya apakah siswa mampu membaca, melainkan apakah mereka mau membaca dan melakukannya secara konsisten. Seorang siswa mungkin memiliki kemampuan membaca yang baik, namun jika ia jarang membaca, kesempatan untuk memperluas pengetahuan, menemukan informasi baru, dan berinteraksi dengan berbagai jenis teks menjadi terbatas.
Karena itu, membangun budaya membaca membutuhkan lebih dari sekadar menyediakan buku. Siswa membutuhkan akses terhadap bahan bacaan, kesempatan untuk membaca, lingkungan yang mendukung, dan motivasi untuk melakukannya. Di sinilah gagasan The Principal’s Award mendapatkan relevansinya.
Program ini dirancang sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam aktivitas membaca melalui apresiasi dari kepala madrasah, dengan pesan sederhana: membaca itu penting, usaha membaca itu dihargai, dan setiap siswa memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi pembaca.
Bukan Sekadar “Baca Buku, Dapat Hadiah”
Nama The Principal’s Award memang mengandung kata award atau penghargaan. Namun, filosofi program ini bukan sekadar memberikan hadiah kepada siswa yang membaca buku paling banyak.
Jika kegiatan membaca hanya berorientasi pada hadiah, ada risiko siswa membaca semata-mata karena ingin memperoleh penghargaan. Padahal, tujuan yang lebih penting adalah menumbuhkan kebiasaan dan kesadaran bahwa membaca memberikan manfaat bagi diri mereka sendiri.
Karena itu, The Principal’s Award diarahkan sebagai bentuk recognition, yaitu pengakuan terhadap usaha, konsistensi, perkembangan, dan kontribusi siswa dalam aktivitas membaca. Penghargaan tidak harus hanya diberikan kepada siswa yang membaca paling banyak, tetapi juga dapat diberikan kepada siswa yang menunjukkan perkembangan yang berarti, aktif memanfaatkan perpustakaan, konsisten membaca, atau mampu merefleksikan bacaan dengan baik.
Dengan pendekatan tersebut, siswa yang sebelumnya kurang aktif membaca tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh apresiasi ketika menunjukkan perkembangan. Prinsipnya adalah: bukan hanya siapa yang paling banyak membaca, tetapi siapa yang menunjukkan kemauan untuk terus berkembang.
Read – Record – Reflect – Recognize
Agar kegiatan membaca tidak berhenti pada aktivitas “meminjam dan membaca buku”, The Principal’s Award dikembangkan melalui empat tahapan sederhana.
1. Read
Siswa membaca buku atau bahan bacaan yang sesuai dengan minat, usia, dan kemampuannya. Pilihan bacaan menjadi penting karena tidak semua siswa menyukai jenis buku yang sama—ada yang menyukai cerita, sains, biografi, sejarah, komik edukatif, pengetahuan populer, maupun berbagai topik lainnya. Semakin beragam pilihan bacaan yang tersedia, semakin besar peluang siswa menemukan bacaan yang sesuai dengan minatnya.
2. Record
Setelah membaca, siswa mencatat aktivitasnya melalui Reading Log yang dapat memuat informasi sederhana seperti judul buku, tanggal membaca, informasi penting yang ditemukan, kosakata baru, serta kesan atau tanggapan siswa terhadap bacaan. Catatan tersebut bukan sekadar administrasi, melainkan menjadi jejak perkembangan kebiasaan membaca siswa sekaligus membantu madrasah melakukan monitoring.
3. Reflect
Membaca seharusnya menghasilkan pemahaman. Karena itu, siswa diberi kesempatan untuk merefleksikan apa yang telah dibacanya, misalnya melalui pertanyaan: Apa yang saya pelajari dari bacaan ini? Bagian mana yang paling menarik? Apa hal baru yang saya ketahui? Bagaimana bacaan ini berkaitan dengan kehidupan saya? Tahap refleksi membuat aktivitas membaca menjadi lebih bermakna karena siswa tidak hanya menyelesaikan buku, tetapi juga berpikir tentang apa yang telah dibacanya.
4. Recognize
Tahap terakhir adalah memberikan apresiasi. Kepala madrasah dapat memberikan penghargaan dalam berbagai kategori, seperti Reading Champion, Most Improved Reader, Active Library User, Best Reading Reflection, atau kategori lain yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan madrasah. Melalui tahap ini, siswa belajar bahwa usaha mereka diperhatikan dan dihargai.
Kepala Madrasah sebagai Penggerak Budaya Membaca
Kepemimpinan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan administrasi dan pengelolaan sumber daya, tetapi juga memiliki peran dalam membangun budaya belajar yang positif. Ketika kepala madrasah memberikan perhatian terhadap kegiatan membaca, siswa mendapatkan pesan bahwa membaca merupakan sesuatu yang penting. Ketika usaha membaca diapresiasi, siswa memperoleh pengalaman bahwa proses belajar mereka memiliki nilai.
Kepemimpinan semacam ini tidak selalu harus diwujudkan melalui program yang besar dan kompleks. Tindakan sederhana—menanyakan buku yang sedang dibaca siswa, mengunjungi perpustakaan, memberikan apresiasi, membaca bersama siswa, atau memberikan penghargaan terhadap perkembangan mereka—dapat menjadi pesan yang kuat.
Dengan demikian, The Principal’s Award bukan sekadar program perpustakaan, melainkan salah satu bentuk kepemimpinan kepala madrasah dalam membangun budaya belajar dan budaya membaca.
Perpustakaan sebagai Rumah Membaca
Program ini juga memberikan ruang yang lebih besar bagi perpustakaan madrasah. Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku atau tempat siswa datang ketika mendapatkan tugas, melainkan perlu menjadi rumah membaca—tempat siswa menemukan buku, informasi, pengetahuan, inspirasi, dan pengalaman belajar.
Koleksi bacaan yang beragam, suasana yang nyaman, layanan yang ramah, serta program yang menarik akan membantu menciptakan pengalaman membaca yang positif. Dalam konteks ini, sinergi antara kepala madrasah, guru, wali kelas, pengelola perpustakaan, dan siswa menjadi sangat penting, karena budaya membaca tidak dapat dibangun oleh satu orang saja, melainkan dibangun bersama.
Menuju TKA 2027
Apakah The Principal’s Award akan langsung meningkatkan nilai TKA? Jawabannya tentu tidak sesederhana itu. Program literasi bukan satu-satunya strategi untuk meningkatkan hasil asesmen, karena nilai TKA dipengaruhi oleh berbagai faktor. Namun, membangun kebiasaan membaca dapat menjadi salah satu bagian penting dari ekosistem pembelajaran yang mendukung siswa.
Jika siswa lebih sering membaca, lebih terbiasa memahami informasi, lebih mampu merefleksikan bacaan, dan lebih aktif memanfaatkan berbagai sumber belajar, maka madrasah sedang membangun salah satu fondasi penting dalam proses pembelajaran. Karena itu, target rerata TKA 80 pada tahun 2027 perlu dipandang sebagai target bersama yang membutuhkan berbagai strategi, dan The Principal’s Award menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.
Yang ingin dibangun sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar angka. Madrasah ingin membangun siswa yang mau membaca, mampu memahami, berani bertanya, mampu berpikir, dan memiliki kebiasaan belajar yang berkelanjutan.
Penutup: Sebuah Penghargaan untuk Sebuah Kebiasaan
Pada akhirnya, The Principal’s Award bukan terutama tentang piala, sertifikat, atau hadiah. Program ini adalah tentang sebuah pesan sederhana yang ingin disampaikan kepada siswa: “Kami melihat usaha kalian. Kami menghargai perkembangan kalian. Teruslah membaca.”
Seorang siswa tidak menjadi pembaca hanya karena pernah menyelesaikan satu buku, melainkan menjadi pembaca ketika membaca mulai menjadi bagian dari kebiasaannya. Budaya membaca pun tidak tumbuh dalam satu malam, melainkan tumbuh dari satu buku yang dibaca, satu halaman yang dipahami, satu pertanyaan yang muncul, satu pengetahuan baru yang ditemukan, dan satu kebiasaan baik yang dilakukan berulang-ulang.
Melalui The Principal’s Award, MTsN 1 Pandeglang berupaya menjadikan membaca bukan sebagai beban, melainkan sebagai pengalaman yang bermakna, dihargai, dan menyenangkan. Dari perubahan kecil itulah, sebuah budaya diharapkan tumbuh—membaca hari ini, belajar lebih baik esok hari. Dan dari budaya belajar yang kuat itulah, target akademik yang lebih tinggi diharapkan dapat dicapai bersama.
Unduh artikel ini dalam format PDF: Klik di sini untuk mengunduh
Penulis adalah Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Pandeglang.